Kembalinya Hatcher di Blanakan (2)

 
Walau disebut-sebut masuk daftar hitam pemerintah Indonesia, nyatanya Hatcher bisa pulang-pergi seenaknya. Hingga saat ini imigrasi tidak mencekalnya. "Saya masuk ke Indonesia tanpa masalah," ujarnya kepada media Inggris, The Times Online, awal Mei lalu. Dia membantah tudingan melakukan kegiatan ilegal. "Tuduhan itu tidak ada dasarnya," katanya. Menurut dia, tuduhan itu berasal dari lawan bisnisnya yang mengincar proyek yang kini sedang dia tangani.

Hatcher mengaku tengah terlibat proyek penyelamatan harta karun di Blanakan. Hatcher mengatakan pihaknya justru menyelamatkan harta karun Blanakan yang rawan penjarahan. "Bila kami tidak mengamankan kapal karam itu, semua sudah habis dicuri," katanya.

Laut lepas Blanakan hingga Pakis Jaya, Karawang, Jawa Barat, diyakini memendam harta karun yang tak terkirakan banyaknya. Pada 2000-an, PT Lautan Mas Bhakti Persada, misalnya, pernah besar-besaran mengeksplorasi lokasi sekitar 200 mil dari bibir pantai Blanakan. Di kedalaman sekitar 27 meter, perusahaan yang berpusat di Jakarta itu berhasil mengangkat berbagai jenis porselen zaman Dinasti Ming. Semuanya lalu digudangkan di Museum Prancis, Jakarta, gudang milik Angkatan Laut di Cirebon, dan gudang Pondok Duyung, Jakarta.

Banyak nelayan yang terlibat dalam proses pencarian harta karun ini. Mereka kebanyakan berasal dari kampung nelayan Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, yang lokasinya tak begitu jauh dari pantai Blanakan. Pada Juli 2009, misalnya, seorang penyelam asal Desa Tangkolak bernama Sukarta dibantu kawan-kawannya berhasil mendapat ribuan porselen Ming.

Pos pengamanan laut Blanakan menyebutkan, jumlah keramik zaman Dinasti Ming yang ditemukan Sukarta sekitar 2.300 buah. "Kondisinya masih bagus-bagus. Kebanyakan berupa mangkuk," kata Sukrisno, petugas pengamanan laut Blanakan. Barang-barang itu selanjutnya diamankan di Pangkalan Utama Angkatan Laut di Cirebon.

Tapi, menurut warga Tangkolak sendiri, Sukarta sesungguhnya hanya bekerja untuk orang asing. "Sukarta itu hanya kuli bule," kata Casudi, salah seorang warga Tangkolak. Ketika ditanya mungkinkah yang dimaksud orang asing itu Michael Hatcher, Casudi menjawab, "Bisa iya, bisa tidak."

Yang jelas, perburuan Sukarta dan kawan-kawan itu di titik 05-28" 783 Lintang Selatan dan 107"-55' 227" Bujur Timur di perairan Blanakan. Lokasi itu kini izinnya diberikan kepada Comexindo Usaha Mandiri. Dan dua kapal yang digunakan Sukarta untuk mengangkut keramik-keramik temuannya itu, Perahu Alini Jaya dan Perahu Asli, adalah kapal yang diduga ada hubungannya dengan Comexindo.

Haryo Yuniarto, Direktur Hukum Comexindo, membantah semua tudingan itu. Menurut dia, sejak permohonan izin survei, Hatcher tidak pernah dilibatkan, termasuk sebagai konsultan. "Sama sekali tidak ada hubungan kerja dengannya," kata Haryo. Dia menantang Konsorsium membuktikan tuduhannya.

Keterlibatan Hatcher dalam "proyek Blanakan" kini masih diselidiki. Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, pun membentuk tim terpadu yang terdiri atas unsur Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, TNI AL, Direktorat V Tindak Pidana Tertentu Bareskrim, Direktorat Polisi Perairan Polri, dan Kejaksaan Agung.

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Aji Sularso menjelaskan, saat ini tim itu sudah bekerja di Blanakan. Mereka mencatat semua keramik hasil pengangkatan Comexindo dengan sistem komputerisasi dan menggunakan barcode agar mudah didata. "Kita juga memasang kamera CCTV agar pengawas tidak bisa melakukan konspirasi," ujarnya.

Nunuy Nurhayati, Nanang Sutisna (Subang)


|
Selanjutnya