Penjaga Pohon Keturunan

 

Seorang pelaku tindak kekerasan terhadap kelompok agama lain mengaku sebagai habib, lengkap dengan nama suatu marga keturunan Alawiyin nama keturunan Ahmad bin Isa keturunan ke-10 dari Nabi Muhammad, dari Hadramaut. Orang-orang yang meragukan asal-usul keturunannya melaporkan ke Rabithah al-Alawiyah untuk menyelidikinya. Dari ahli ilmu nasab yang dimiliki lembaga itu, ternyata tak ditemukan catatan bahwa orang tersebut berasal dari keturunan Alawiyin ada juga yang menyebut Baalawi.

Keluarga yang masih memegang teguh garis keturunan biasanya diam-diam juga menyelidiki calon menantu yang akan meminang perempuan syarifah perempuan keturunan Nabi Muhammad. Lembaga itu bernama Al-Maktab al-Daimi, lembaga di bawah Ar-Rabithah yang khusus memelihara sejarah dan mencatat nasab As-Saadah al-Alawiyin. "Kekuatan itu ada pada ikatan dan ini memang terjaga karena dari dulu para habib menjaga silsilah mereka," kata peneliti masalah habib, Ali Yahya.

Lembaga "audit" keturunan itu awalnya bernama Al-Rabithatoel al-Alawijah, berdiri pada 1928. Sebelumnya, pada 1901, sudah berdiri lembaga Jamiatul Kheir, yang bergerak di bidang pendidikan. Maktab ini pertama kali mencatat Alawiyin di seluruh wilayah Indonesia pada 1940. Dari hasil sensus itulah diketahui jumlah Alawiyin yang tercatat oleh Maktab Daimi 17.764 orang.

Selain untuk mengetahui asal-usul seseorang, prog ram tersebut untuk membantu "keluarga" Alawiyin yang kekurangan, tidak sekolah, atau yatim piatu. Panti asuhan di bawah bendera Rabithah, Daarul Aitam, berdiri pada 12 Agustus 1931 di kawasan Tanah Abang, Jakarta, dipimpin pertama kali oleh Sayid Abubakar bin Muhammad bin Abdurrahman al-Habsyi.

Sebelum kemerdekaan, beberapa tokoh Alawiyin yang terjun ke dunia politik sempat mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI). Sebab, saat itu partai-partai nasionalis masih belum membuka diri untuk keturunan asing. Setelah proklamasi kemerdekaan, PAI dibubarkan, anggota dan tokohnya berkiprah di partai politik sesuai dengan pilihan masing-masing. Sedangkan perkumpulan Al-Rabithah al-Alawiyah sebagai kelanjutan dari perkumpulan Jamiatul Kheir tetap bergerak di bidang sosial. Hingga kini Rabithah mempunyai jaringan kerja dengan majelis taklim di seluruh Indonesia yang dikelola oleh kaum Alawiyin.

Seorang keturunan Alawiyin yang perlu mencatatkan diri bisa datang langsung ke kantor Rabithah di kawasan Jalan T.B. Simatupang, dengan menyebutkan lima sampai tujuh pendahulu dan saksi yang menguatkannya. Setelah diproses dan diteliti, ia akan mendapat surat seperti paspor dengan jaringan seperti pohon keturunan sampai Nabi Muhammad. Selain Rabithah, lembaga yang turut mencatat dan menjaga nasab adalah Naqobatul Ashrof. Lembaga yang berada di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, ini memiliki ahli nasab yang bisa secara cepat mengetahui asal seseorang, setelah menyebut tiga sampai lima pendahulunya. "Karena itu, Baalawi tidak memerlukan etnisitas (Arab) sebagai basis identitas, karena mereka mempunyai genealogi," ujar sejarawan dan antropolog dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, Ismail Fajrie Alatas.


AT



|
Selanjutnya