close

Korban Lumpur Tolak Janji-Janji Baru

Selasa, 02 Desember 2008 | 12:54 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Perwakilan warga korban lumpur Lapindo tidak bisa menerima kesepakatan baru antara pemerintah dan pihak Lapindo terkait kesulitan pembayaran ganti rugi. "Kalau hanya begini, buat apa kami jauh-jauh ke Jakarta," kata perwakilan warga, Koes Soelassono, saat diterima Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di kantornya, Selasa (2/12).

Dia menegaskan, pihaknya belum bersedia menerima kesepakatan tersebut. Jika hanya mendapat perpanjangan kontrak, ujarnya, warga belum dapat menata kehidupan baru. "Selama ini kami tersiksa, mengontrak rumah seperti dikucilkan," ujarnya.

Warga lain, Anang Bay Arifin, menambahkan, warga korban Lapindo hanya menagih komitmen pihak Lapindo. "Kalau hanya janji atau penyesuaian seperti ini, kami sudah trauma," ucapnya. "Kami mengetuk pintu hati Bapak-bapak yang terdalam."

Perwakilan warga itu menanggapi informasi dari Djoko Kirmanto perihal kesepakatan dengan Lapindo soal pembayaran ganti rugi. Kesepakatan yang dibuat pada Selasa pagi adalah, Lapindo bisa mencicil pembayaran ganti rugi Rp 15 juta per bulan, tetapi juga berkomitmen memperpanjang kontrak rumah warga dengan biaya Rp 5 juta per bulan.

HARUN MAHBUB

Info Grafis

  • Mangkir Lagi

    Merasa terus dibohongi, Ahad lalu sekitar seribu korban lumpur pun bergerak ke Jakarta untuk unjuk rasa.

  • Lapindo Minta Pemerintah Tangani Lumpur

    PT Minarak Lapindo Jaya meminta pemerintah menangani sementara masalah lumpur Lapindo karena kesulitan likuiditas. Anak usaha Grup Bakrie itu mengirimkan surat permintaan kepada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [1] :

  • Komit perpres no.14

    Jangan mau diberi janji-janji baru yang tidak ada payung hukumnya. Selama ini yang terjadi, Lapindo beritikad mengulur-ulur pembayaran. Batas akhir penerimaan ganti rugi jadi gak jelas. Bagaimana korban bisa menata hidup kembali ???

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan