Sebaiknya Mata Pelajaran yang Dikurangi

Minggu, 25 Desember 2005 | 16:58 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Berkaitan dengan rencana pengurangan jam pelajaran sekolah mulai tahun ajaran 2006-2007, menurut Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suhendro tidak ada perubahan terhadap mata pelajaran. "Mata pelajaran tidak berubah, karena telah diatur dalam UU Sistem Pendidikan Nasional dan PP no 19 tahun 2005,"ujarnya.

Pengurangan ini hanya berlaku pada jam pelajarannya saja. Bambang mencontohkan jam pelajaran matematika yang tadinya 6 jam pelajaran per minggu dikurangi menjadi 5 jam per minggu.

Inti dari pengurangan jam pelajaran ini adalah pengurangan beban siswa. Pengurangan ini membuat pelajaran diberikan tidak lebih dari 1.000 jam per tahun. Saat ini bahkan ada sekolah yang menerapkan 1.400 jam per tahun. "Banyak keluhan tentang jam pelajaran yang terlalu banyak,"katanya. Maka pengurangan jam pelajaran di sekolah ini, menurut Bambang, harus diikuti dengan pengurangan beban pelajaran, misalnya, jumlah pekerjaan rumah (PR) dan waktu pengerjaannya.

Menurut praktisi pendidikan, Arif Rahman yang lebih penting dari jumlah jam pelajaran itu adalah proses pemberian dan pencernaan pelajarannya. "Sebaiknya sedikit tapi dalam, daripada banyak tapi dangkal," ujarnya.

Proses pembelajaran harus diarahkan menjadi proses pendidikan. Anak harus dididik untuk memiliki sikap positif seperti bersikap jujur, ulet dan tidak mudah menyerah, kreatif dan lainnya. Arif menyatakan saat ini banyak mata pelajaran yang tidak diperlukan bagi profesi-profesi tertentu.

Berkaitan dengan UU Sisdiknas, Arif menyatakan, mata pelajaran dapat diorganisir agar diberikan dalam sistem paket, seperti di perguruan tinggi. "Jadi mata pelajaran tersebut dapat dibahas lebih dalam lagi,"ujarnya.

M. Reza Maulana

TOPIK






Komentar Anda

Kirim