Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXXIII/31 Januari - 06 Februari 2005
   
Pendidikan

Berpacu Melawan Keterbatasan

SEJUTA kesulitan mesti dihadapi buat menggerakkan roda pendidikan di Aceh. Seragam saja banyak murid tak memiliki. Kelas-kelas pun mesti dibangun dari tenda. Para siswa harus belajar sambil lesehan karena tidak ada kursi. Yang lebih pelik lagi, rapor mereka umumnya telah musnah dilalap bencana tsunami.

Itulah kendala yang dialami Sri Rosyanti dan Sri Irianingsih, dua aktivis sosial yang dikenal sebagai ibu kembar, saat membantu anak-anak sekolah di Aceh. Keduanya memfokuskan diri membangun sekolah-sekolah darurat. Meski proses belajar versi pemerintah baru dimulai 26 Januari, mereka sudah membuka sekolah darurat sejak 2 Januari lalu. "Saat ini kami sudah mendirikan enam sekolah Kartini yang menampung 1.700 siswa," kata Sri Rosyanti.

Keenam sekolah tenda itu tersebar di Banda Aceh, Lhok Seumawe, dan Meulaboh. Pengajarnya berasal dari 31 guru relawan yang memiliki gelar sarjana pendidikan. Kedua saudara kembar itu juga membagikan seragam dan alat-alat tulis kepada para siswa. "Tapi belum semua siswa kebagian seragam, karena susahnya angkutan dari Jakarta," kata Rosyanti.

Karena tidak semua siswa memiliki rapor, akhirnya mereka juga memutuskan mengadakan tes. Bahan tes diambil dari Departemen Pendidikan, yakni berupa soal ujian semester yang seharusnya ditempuh para siswa pada 27 Desember lalu. "Kini para siswa di enam sekolah tersebut sudah memiliki rapor sementara," ujar Rosyanti. Dia berharap rapor ini bisa diakui oleh Dinas Pendidikan, terutama ketika para siswa sudah ditampung di sekolah baru yang akan segera dibangun pemerintah.

Apa yang dilakukan ibu kembar justru belum dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan. Menurut Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, kurikulum untuk Aceh akan disesuaikan. Pengajaran akan lebih banyak memuat proses untuk penyembuhan sisi psikologi siswa pasca-bencana. Ini bakal berlangsung selama dua sampai tiga bulan. "Yang penting kita menormalkan kembali mereka, menyembuhkan jiwa mereka," kata Sudibyo.

Nurdin Saleh, Agriceli (Meulaboh)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data