Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Perilaku

Berprestasi atau Tidak, Tergantung Ibu

Agar anak berprestasi, para ibu dan guru harus menerapkan pola asuh yang otoritatif. Pola ini cukup kuat mengendalikan anak tapi tetap demokratis. Untuk itu, peran ibu sangat menentukan, mengapa?

SEMUA orang tua pasti ingin anaknya berprestasi. Tapi harapan sering tak selaras dengan kenyataan. Kalau sudah begini, jangan buru-buru menyalahkan anak. Mungkin orang tualah yang salah mengasuhnya. Asal tahu caranya, sebenarnya prestasi seseorang itu bisa dibentuk. Kuncinya ada pada pola asuh ibu di rumah dan para guru di sekolah. Pribadi berprestasi bisa terbentuk bila lingkungan rumah dan sekolah menerapkan pola asuh yang sama. Begitulah kesimpulan disertasi Doktor Mochamad Enoch Markum, yang diajukan di depan sidang dewan penguji Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, pertengahan Desember silam, dan memperoleh penilaian cum laude.

Dalam disertasi yang berjudul Sifat Sumberdaya Manusia Indonesia Penunjang Pembangunan (Suatu Studi tentang Prasyarat Sifat, Latar Belakang Keluarga, dan Sekolah dari Individu Berprestasi Tinggi), Enoch menyatakan bahwa faktor ibu sangat mempengaruhi pembentukan sifat dan prestasi individu.

Kesimpulan itu diambil setelah dilakukan serangkaian penelitian terhadap sejumlah mahasiswa peraih gelar juara I dan II Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Utama Tingkat Nasional 1996 dan 1997. Diteliti pula sejumlah mahasiswa berprestasi rendah, yaitu mereka yang indeks prestasi komulatifnya pada semester VI kurang dari 2,00 (dari skala 3).

Dari penelitian tersebut, Enoch menemukan bahwa sifat dan prestasi individu dipengaruhi oleh bagaimana pola sang ibu mengasuh anaknya. Mengutip pendapat ahli psikologi Baumrind, Enoch menggolongkan pola asuh anak menjadi tiga: otoriter, permisif, otoritatif.

Pada pola asuh otoriter, orang tua sangat menanamkan disiplin pada anaknya dan menuntut prestasi tinggi. Namun, di pihak lain, orang tua tersebut tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengemukakan pendapat serta sekaligus memenuhi kebutuhan si anak. Sebaliknya pada pola asuh permisif, orang tua menunjukkan sikap demokratis dan kasih sayang tinggi, namun dengan kendali dan tuntutan berprestasi yang rendah. Sedangkan pada pola asuh otoritatif, orang tua memberikan kontrol dengan mengendalikan anak untuk mencapai target tertentu. Tapi orang tua juga memberi anak kesempatan untuk menyampaikan keluhan dan pendapatnya.

Dari ketiga pola tersebut, pola asuh otoritatif terbukti paling kondusif untuk mencetak anak berprestasi. Pola asuh model ini dianggap kuat dalam kendali tapi tetap memberikan sikap demokratis. Ia menuntut prestasi sekaligus melimpahkan kasih sayang yang tinggi juga. Pendeknya, anak-anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan memiliki kompetensi instrumental yang kuat.

Peran ibu yang otoritatif, menurut Enoch, sangat besar dalam pembentukan individu berprestasi. Kenapa ibu? Kehadiran seorang ibu dalam keluarga ternyata menempati posisi lebih penting daripada si bapak. Ini mirip di Jepang. Ratu rumah tangga Jepang tidak hanya sibuk di dapur, melainkan juga terlibat aktif dalam pendidikan anak-anaknya. Begitu besar keterlibatan ibu terhadap pendidikan anaknya sampai ia rela mengorbankan kesenangannya sendiri. Bila perlu, mereka bersedia mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai les tambahan anaknya. Tak mengherankan bila di Jepang ibu-ibu juga dikenal sebagai kaum pendidik (kayoiku mama).

Agar berhasil, peran ibu perlu ditunjang oleh para guru di sekolah. Yang ideal tentu saja pola asuh dan pembinaan para guru tidak jauh berbeda dari yang diberikan di rumah. Soalnya, sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah yang dapat membentuk sifat seseorang.

Pembentukan sifat itu sangat penting karena dalam diri setiap individu yang punya prestasi tinggi mestinya juga terkandung enam sifat tertentu. Enam sifat itu adalah kerja keras, disiplin, komitmen, prestatif, mandiri, dan realistis. Menurut bekas Direktur Kemahasiswaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu, keenam sifat tersebut memiliki andil besar dalam membentuk sosok individu yang berprestasi.

Salah seorang anggota tim penguji, Suwarsih Warnaen, berkomentar bahwa disertasi Enoch sangat bermanfaat. "Setidaknya kita punya pegangan yang cukup kuat untuk menciptakan strategi-strategi dalam mendorong munculnya individu berprestasi tinggi," kata guru besar psikologi sosial dan pakar di bidang psikologi lintas budaya itu.

Wicaksono dan Arif A. Kuswardono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data