Nasib 4.500 Guru Bantu Terkatung-katung

Selasa, 27 Desember 2005 | 07:42 WIB

TEMPO Interaktif, Tangerang:Pemerintah Kabupaten Tangerang kebingunan menangani 4.500 bantu yang kontraknya akan diputus pada 31 Desember ini.
Asisten III Pemerintah Kabupaten Tangerang Dedy Sutardi mengaku, belum ada jalan keluar untuk mengganti tenaga guru tersebut.

Menurut Dedi, para guru itu akan kehilangan pekerjaan. Pemerintah pusat pun belum memberi alternatif yang mesti dilakukan pemerintah daerah. "Yang pasti mereka kehilangan pekerjaan, jika memang kontraknya tidak diperpanjang lagi," katanya kepada Tempo, Senin (26/12).

Padahal, katanya, peran guru bantu cukup banyak.
Dari sekitar 1.500 guru dengan statusnya pegawai negeri, 1.000 guru honor, selebihnya buru bantu. Mereka tersebar di 1.156 sekolah dasar, ratusan SMP, dan SMA.

Menurut Dedy, jika guru bantu tadi dibebankan kepada pemerintah daerah, anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 25 miliar per tahun. Angka ini diperoleh dari jumlah 4.500 guru yang masing-masing mendapat gaji Rp 460 ribu per bulan. " Jumlah Rp 25 miliar per tahun hanya untuk menggaji mereka," katanya.

Muhyi Syarifudin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, mengakui jika saat ini pihaknya belum memiliki solusi. Dinas Pendidikan, kata dia, telah melakukan pendataan kembali para guru tersebut. Jumlahnya sekitar 3.658 orang. "Kami mencatat yang efektif mengajar saja," kata Muhyi.

DPRD setempat mendesak masalah guru menjadi skala priorias pemerintah. "Saat ini, Kabupaten Tangerang memang kekurangan guru, kalau guru bantu dihapus yang menjadi korban adalah para anak-anak sekolah," ujar Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Endang Sujana.

Endang meminta pemerintah mengambil langkah-langkah antisipatif apabila memang nantinya pemerintah pusat tidak memperpanjang kontrak mereka. Endang menyatakan, DPRD akan memperjuangkan nasib para guru tersebut lewat anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD.

Menurut dia, sejauh ini Kabupaten Tangerang baru mengalokasikan anggaran di bawah 15 persen dari total APBD Rp 1,1 triliun.

Joniansyah-Tempo

TOPIK






Komentar Anda

Kirim