Aburizal: Kekayaan Keluarga Bakrie Turun 90 Persen Lebih

Jum'at, 12 Desember 2008 | 14:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Aburizal Bakrie menyatakan kekayaan keluarganya merosot hingga 90 persen lebih akibat krisis finansial global. "Sekarang di bawah 10 persen," kata Aburizal, yang juga menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, di Jakarta, Kamis (11/12) petang.

Menurutnya, penurunan ini juga dipicu oleh rontoknya harga saham PT Bumi Resources Tbk yang sempat menyentuh Rp 8.750 per lembar, namun kini berada di level Rp 930. "Kurang lebih, prosentase penurunannya (kekayaan) sama (dengan penurunan saham Bumi Resources)," ujar dia.

Ia juga menyampaikan kemungkinan tidak masuk dalam urutan teratas daftar orang kaya di Indonesia versi majalah Forbes Asia tahun ini. "Mungkin (urutannya) jadi turun," kata Aburizal.

Padahal, tahun lalu ia dan keluarganya dinobatkan sebagai yang terkaya di republik ini, dan menggeser posisi Sukanto Tanoto, bos Grup Raja Garuda Mas. Saat itu, hartanya tercatat meningkat empat kali lipat dari US$ 1,2 miliar pada 2006, menjadi US$ 5,4 miliar.

WAHYUDIN FAHMI

Komentar (15)

    Orang satu ini mmg sdh out of humanity,= 666 plus.

    KASIYAN....

    wah ga tahan juga ikut koment nich..

    dulu bakrie beli tmbg batu bara di kaltim (kpc),tanpa modal apa apa..
    (beli sapi yang buat bayar ya sapinya..)

    bakrie..bakrie...licik banget loe..
    pemerintah juga ga punya power..
    tindak tu bakrie...

    rakyat n negara dirugikan terus ma dia..
    mulai lapindo..sampai KPC..
    kekayaan alam kaltim di kuras habis ...pemerintah ga dapet apa2..

    Karena pulut santan binasa, karena mulut bandan binasa! Kalau pak Abu tak bohong bin ngeles, tak akan mungkin ada kata-kata pedas dari masyarakat!

    Kayaknya ngak ada rakyat bangsa ini yang mau peduli kekayaan Aburizal naik apa turut, yang kami peduli, Aburizal mau bayar kerugian akibat Lumpur Lapindo.

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan